Mendaki Gunung Panderman

Agustus 29, 2016


Ketiga kalinya aku mendaki Gunung. Kali ini aku mendaki Gunung Panderman. Jangan salah sangka, aku bukan kelompok yang sering dipanggil orang “Pecinta Alam”. Aku hanya sangat jenuh dengan tugas, tanggungjawab, kampus, dan organisasi. Bukannya tak suka, hanya jenuh. Dan saat-saat seperti ini rasanya memang paling senang jika bisa kembali ke alam. Pendakian dimulai pukul 23.30 WIB. Tanah tak begitu berdebu karena tadinya hujan. Suatu keberuntungan bagi kami. Kami mendaki ber-sepuluh. Aku memang paling suka pendakian malam. Karena aku hanya perlu menatap beberapa meter dari senterku untuk melangkah, dan saat lelah aku bisa duduk bersandar pada tasku dan melihat langit. Menyapa bintang dan bulan yang ramah sekali malam itu. Kata teman-teman pendakian kami termasuk cepat. Karena pukul 03.05 WIB kami sudah tiba di puncak 2045 mdpl. Benar-benar dingin. Saking dinginnya pop mie kuah yang aku tinggal tidur beberapa menit tak terasa panas sama sekali. Tak ada yang menghangatkan badan selain sleeping bad. Aku menatap bintang dan bulan sabit yang terlihat dekat. Suara angin pun ikut terdengar. Itu angin gunung kata temanku, lalu dia menceritakan jenis-jenis angin padaku. Ada angin lembah dan sebagainya. Entahlah, aku hanya senang menikmati saat-saat seperti ini. Berbaring di tanah hanya dengan sleeping bag, menatap langit, mendengar angin, dan ada kamu disampingku. Rasanya begitu damai.

Banyak yang mendirikan tenda di puncak ini. Kami sendiri tidak membawa tenda karena memang tidak ada rencana untuk menginap. Hanya ke puncak sebentar untuk melihat matahari terbit lalu turun begitu saja. Wah ternyata sleeping bed tidak cukup untuk menghangatkan badanku. Badanku terasa beku. Aku hanya tidur beberapa menit saja. Menjelang matahari terbit orang-orang keluar dari tenda mereka dan menatap matahari. Sayangnya tidak hanya orang-orang saja yang keluar tapi juga monyet liar. Sampah yang sudah kita kumpulkan diacak-acak lagi oleh monyet liar lalu dibawa lari. Sampah kita jadi berantakan dan bahkan menyangkut di pohon. Setelah berfoto, kami langsung turun karena memang tidak nyaman dengan monyet-monyet itu. Mulai dari yang kecil sampai yang besar sekali ada disana.








Perjalanan turun gunung ini bagiku lebih melelahkan daripada saat naik, karena sepatu harus menahan ujung kaki. Kakiku sakit sekali sehingga aku memutuskan untuk melepas sepatu dan hanya mengenakan kaos kaki saja. Tak jarang aku lebih memilih meluncur seperti turun dari prosotan daripada harus jalan kaki karena jarang sekali ada jalan yang landai. Begitu sampai bawah aku sudah seperti orang yang gulung-gulung di pasir. Aku menjadi yang paling akhir sampai di bawah karena aku tidak bisa berjalan cepat di jalan yang turun sekali seperti ini. Begitu sampai bawah ternyata teman-teman yang lain juga kotor semua sama sepertiku, mereka juga memilih meluncur daripada jalan kaki. Beberapa lmalah ada yang berlari.




You Might Also Like

0 komentar